Foto bersama panitia TUN 2025 dengan warga Kelurahan Medokan Semampir

BEM ITS Hadirkan Pemilah Sampah Otomatis Dari Program Teknologi Untuk Negeri

Sep 2, 2025
Surabaya, 28 Juni 2025 – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) melalui Kementerian Riset dan Teknologi (Ristek) kembali menggulirkan program tahunan Teknologi Untuk Negeri (TUN). Tahun ini, program tersebut hadir di Kelurahan Medokan Semampir, Surabaya, dengan membawa inovasi pemilah sampah otomatis hasil karya tim mahasiswa Smart Aruda dari Keluarga Mahasiswa (KM) ITS.

Audrey, perwakilan dari Kedirjenan Akselerasi Karya Ristek, mengungkapkan bahwa TUN lahir dari keprihatinan terhadap banyaknya karya mahasiswa yang hanya berhenti di laboratorium tanpa sempat digunakan masyarakat. “Banyak teknologi mahasiswa berakhir di rak penelitian. Padahal, jika dimanfaatkan, teknologi itu bisa menjawab berbagai permasalahan yang ada di masyarakat. Melalui TUN, kami ingin menjembatani kebutuhan itu,” ujarnya.

Sebelum program dijalankan, tim Ristek ITS terlebih dahulu melakukan Analisis Kondisi Lingkungan (AKL). Dari hasil analisis, warga Medokan Semampir menyampaikan perlunya sarana pengelolaan sampah yang lebih baik, khususnya tong sampah dengan sistem pemilahan. Keluhan ini muncul karena sebagian besar warga masih membuang sampah tanpa memilah organik dan anorganik, sehingga menyulitkan proses daur ulang.

Simulasi cara kerja alat pemilah sampah otomatis kepada warga oleh Tim Smart Aruda ITS

Menanggapi temuan tersebut, Ristek ITS kemudian membagikan kebutuhan ini kepada tim-tim inovasi di lingkungan KM ITS. Setelah melalui proses seleksi yang ketat, Smart Aruda akhirnya terpilih sebagai tim dengan inovasi terbaik untuk diterapkan.

Pada kegiatan utama, warga diperkenalkan dengan cara kerja alat pemilah sampah otomatis sekaligus menyaksikan uji coba langsung. Alat ini dirancang agar dapat memilah jenis sampah secara efisien, memudahkan warga dalam mengelola kebersihan lingkungan, sekaligus mendukung upaya pengurangan volume sampah ke tempat pembuangan akhir. Selain demonstrasi teknologi, panitia juga mengadakan sesi interaktif bersama warga serta membagikan doorprize berupa perlengkapan kebersihan. 

Ketua RT setempat mengapresiasi kehadiran mahasiswa ITS melalui program ini. “Kami sangat terbantu dengan adanya alat pemilah sampah otomatis ini. Harapan kami, ada pelatihan lanjutan agar para remaja desa bisa mengoperasikan dan merawatnya dengan baik,” tuturnya.

Bagi BEM ITS, TUN bukan sekadar agenda tahunan, melainkan wujud nyata komitmen mahasiswa dalam mengabdikan diri untuk masyarakat. Tama, salah satu perwakilan Ristek, menekankan pentingnya keterlibatan banyak tim agar inovasi yang dihasilkan semakin berkualitas. “Kalau pesertanya banyak, persaingan antar tim makin ketat. Dampaknya, alat yang dihasilkan pasti lebih bagus dan tepat guna,” jelasnya.

Program ini juga membuka ruang interaksi antara mahasiswa dan masyarakat, sehingga teknologi tidak hanya menjadi produk, tetapi juga sarana membangun hubungan sosial. Warga merasakan manfaat langsung, sementara mahasiswa belajar memahami realitas lapangan. Program TUN diharapkan bisa menjangkau lebih banyak daerah dan melibatkan lebih banyak tim inovator. Tidak hanya di bidang lingkungan, TUN juga berpotensi menghadirkan solusi teknologi untuk bidang kesehatan, pendidikan, hingga ekonomi.

“Kami berharap TUN menjadi wadah yang konsisten, sehingga karya-karya mahasiswa tidak hanya berhenti di meja penelitian, melainkan benar-benar hidup di tengah masyarakat,” pungkas Audrey.

Dengan hadirnya pemilah sampah otomatis di Medokan Semampir, program TUN 2025 bukan hanya memperkenalkan inovasi teknologi, tetapi juga menjadi harapan akan masa depan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan bagi warga.

Penulis: Ahla Nurul Islamiyah/BEM ITS


Jangan lupa juga follow semua akun media sosial BEM ITS buat update-update keren lainnya seputar prestasi, aksi, dan suara mahasiswa ITS.
Karena dari sini, kita bisa tumbuh dan bergerak bareng! 💪

#Ronakarya #BEMITS #ITSSurabaya